Select Page

Sosok Sang Proklamator mengenakan peci di kepala, baju safari dengan empat saku dengan ikat pinggang yang membatasi dua saku di atas dan dua saku di bawah, kanan dan kiri serta tangan kiri yang sedang menyadang jas setinggi ikat pinggang berdiri gagah di depan kaldron “Bilik Nusantara”. Edhi Sunarso seorang pematung yang nama tidak asing lagi di dunia seni, ia dikenal dekat dengan Bung Karno ini, lahir di Salatiga, 2 Juli 1932 dan di usia ke-83 menghebuskan nafas terakhirnya pada 4 Januari 2016 lalu. Buah karya Sang Maestro berupa patung maupun diorama menjadi ikon di beberapa tempat di Jakarta yaitu patung Patung Selamat Datang di bundaran Hotel Indonesia, Patung Dirgantara di Pancoran, Patung Pembebasan Irian Barat di Lapangan Banteng, Diorama Sejarah Museum Perhubungan di Taman Mini Indonesia Indah, Monumen Pancasila Sakti di Lubang Buaya dan berbagai karya ikonik lainnya. Karena karya-karyanya yang luar biasa maka negara telah menganggapnya berjasa besar terhadap bangsa dan negara dalam memajukan dan membina kebudayaan nasional. Sehingga, ia dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma pada 12 Agustus 2003.
Pada penyelenggaraan Asian Games IV Tahun 1964 karya Edhi Sunarso menghiasi Jakarta dengan membuat patung muda-mudi yang menghadap kearah utara yaitu kearah Bandara Kemayoran seolah menjadi penyambut kedatangan para tamu yang akan menghadiri perhelatan akbar Asian Games IV Tahun 1962.
Salah satu karya Edhi Sunarso pun menghiasi Komplek Gelora Bung Karno. Patung figurative yan terbuat dari perunggu setinggi 440 cm berdiri menghadap langsung kearah Jalan Jenderal Sudirman seolah ingin menyapa langsung para pengunjung yang datang ke komplek Gelora Bung Karno yang datang tidak hanya pada saat Asian Games XVIII 2018 saja. Patung Bung Karno dibuat oleh Edhi Sunarso pada tahun 1998 ini menjadi salah satu spot foto yang selalu diminati para pengunjung.